28/01/26

Tips Merawat Rice Cooker Agar Awet & Dapur Selalu Hangat

 




Tips Merawat Rice Cooker Agar Awet & Dapur Selalu Hangat 


 Buat sebagian besar orang, rice cooker di rumah mungkin hanyalah sebuah benda saja, tapi tidak menurutku. Buatku, Si Rose Gold yang setia di pojok dapurku itu bukan sekedar alat elektronik biasa. Harus diakui kalau benda mengkilap ini adalah saksi bisu ribuan piring nasi hangat yang menemani makan malam keluarga kami. Jadi wajar dong ya kalau aku sampai segitu sayangnya dan benar-benar berusaha sebisa mungkin untuk merawat nya.


Sayangnya, sama seperti hubungan manusia, hubungan kita dengan alat dapur seringkali nggak berjalan mulus. Kita mengharapkan nasi yang pulen setiap hari, tapi sering lupa kalau rice cooker butuh perhatian biar nggak ngambek juga. Jujur, merawat alat masak yang satu ini sebenarnya gampang asal tahu tekniknya aja.


Belajar dari Kesalahan Merawat Rice Cooker


Belajar dari kesalahan merawat rice cooker



Sedikit cerita, dulu aku termasuk tipe pengguna rice cooker yang ngasal banget. Aku sering mencuci beras langsung di dalam panci (inner pot). Akibatnya? Ya bisa ditebak, Lapisan anti lengket rice cooker  nya banyak yang tergores hebat dalam hitungan bulan. Efek lain nya, Nasi jadi menempel, berkerak, dan akhirnya terbuang sia-sia.


Gemas melihat kelakuan anaknya itu, Ibuku pun memberikan "kuliah singkat" tentang bagaimana memperlakukan rice cooker ini dengan hati. Daaan, ini nih beberapa rahasia umur panjang roce cooker yang aku pelajari dan udah aku rangkum untuk kalian, baca tulisan ini sampai selesai yaa,


1. Pakai Wadah Terpisah untuk Mencuci Beras


Menggunakan inner pot langsung untuk mencuci beras memang lebih praktis tapi butiran beras bertekstur cukup tajam untuk bisa mengikis lapisan panci jika dilakukan terus-menerus. Jadi, jangan malas untuk selalu pakai baskom plastik terpisah atau wadah lain untuk mencuci beras sebelum memindahkannya ke inner pot.


2. Keringkan Bagian Luar Panci Sebelum Memasak


Ini adalah kesalahan fatal yang sering banget aku lakukan sebelumnya. Selesai mencuci panci atau inner pot nya, aku sering langsung menggunakannya tanpa melihat lagi apakah bagian belakangnya itu masih basah atau tidak. Faktanya, Memasukkan panci yang masih basah dapat merusak elemen pemanas. Jadi, pastikan pantat panci benar-benar kering agar distribusi panas merata dan mesin tidak mengalami gangguan elektrikal.


3. Kebersihan Katup Uap


Pernah nggak sih merasa nasi berbau apek? Jangan langsung suudzon dengan beras nya dulu, karena biasanya masalahnya bukan di berasnya, tapi pada sisa uap air yang terperangkap di katup uap. Bersihkan bagian ini secara rutin agar kualitas nasi tetap terjaga.


4. Hanya Gunakan Centong Plastik


Ternyata centong nasi yang ada di paket pembelian itu bukan cuma bonus semata, ada alasan kuat kenapa centong plastik itu disertakan saat kita membelinya. Faktanya,centong plastik akan meminimalisir goresan saat mengambil nasi. Jadi, sebisa mungkin hanya gunakan centong nasi plastik atau kayu yang disertakan. Logam adalah musuh utama lapisan anti lengket pada setiap panci penanak nasi.


Review: MIYAKO MCM 508 SBC – Si Cantik Kesayangan Nikita Willy


Bicara soal merawat alat dapur, pastinya  kita butuh unit yang memang tangguh dan layak dirawat. Belakangan ini, aku memutuskan untuk pakai Rice Cooker MIYAKO MCM 508 SBC. Menariknya, produk ini ternyata menjadi kesayangan Nikita Willy. Sebagai seorang ibu yang sangat peduli pada kesehatan keluarga, pilihan Nikita tentu bukan tanpa alasan. Dan, setelah mencobanya sendiri, aku paham sih alasannya. 


Rice cooker MIYAKO

Biar gampang, udah aku rangkuman beberapa hal penting untuk kalian nih. Inilah mengapa Rice Cooker MIYAKO seri ini begitu spesial:


Panci Nanoal yang Tangguh: Lapisan anti lengket Nanoal pada produk ini diklaim 10x lebih tahan lama dan yang paling penting adalah Bebas PFOA. Ini memberikan ketenangan pikiran karena nasi yang kita konsumsi lebih sehat dan aman dari bahan kimia berbahaya.

Desain Rose Gold yang Elegan: Tidak bisa dipungkiri, warna Rose Gold nya memberikan kesan mewah di dapur. Estetikanya sangat cocok buat kita kita yang menginginkan tampilan dapur modern ala hunian Nikita Willy.

• Fitur Thermostat System: Sering kesal karena nasi cepat basi? Model ini dilengkapi dengan Thermostat System yang menjaga nasi tetap hangat, tidak kering, dan tidak mudah basi. Suhu di dalamnya terjaga dengan sangat stabil.

Efisiensi dan Keamanan: Selain multifungsi (memasak, menghangatkan, mengukus), produk ini telah lulus uji SNI dan mendapatkan Sertifikat Hemat Energi (SHE). Bahkan, MIYAKO memberikan Garansi Elemen Pemanas selama 5 Tahun, sebuah jaminan kualitas yang sangat berani.


Memilih MIYAKO Nanoal = Investasi Kecil untuk Kebahagiaan Keluarga


Rice cooker MIYAKO Nanoal

Pokoknya, memiliki rice cooker yang berkualitas seperti MIYAKO Nanoal bisa dibilang sebagai sebuah langkah awal, tapi konsistensi dalam merawatnya adalah kunci. Dengan teknologi Panci Nanoal yang kuat, tugas mencuci panci pun menjadi jauh lebih ringan karena sisa nasi tidak menempel keras.


Nasi yang hangat dan sehat bukan cuma soal jenis beras yang kita beli, tapi soal bagaimana kita merawat alat yang memprosesnya. Jika kita menjaga kebersihan katup uapnya dan mengeringkan pancinya dengan benar, alat ini akan setia menemani keluarga Anda hingga bertahun-tahun lamanya.


Terakhir aku cuma bilang, jangan bosen merawat semua barang yang ada di rumah agar masa pakai nya juga bisa lebih lama ya, terutama sang penyelamat kehadiran nasi hangat di piring kita ini. 




18/01/26

Indonesia Humanitarian Summit, Mengubah Air mata Menjadi Martabat dengan Pemberdayaan



Pernah terpikirkan nggak sih, di dunia yang lagi nggak baik-baik saja ini, kira kira tangan kecil kita tuh masih mampu mengubah nasib seseorang nggak ya? Jujur, belakangan ini kepalaku penuh dengan pertanyaan ini. Perkara rejeki yang insya Allah akan selalu ada akunjelas paham betul tap entah kenaoa Ada rasa ketar-ketir tanpa alasan jelas yang sering datang tiba-tiba. Alhamdulillah Jawabannya pun sudah kutemukan di acara yang penuh dengan energi harapan beberapa hari yang lalu, Indonesia Humanitarian Summit.

Walau sebelumnya aku harus sedikit berkejar-kejaran dengan waktu untuk menuju lokasi acara ini, langkah kakiku tetap terasa ringan buat ketemu langsung dengan para pegiat kemanusiaan di Indonesia Humanitarian Summit. Yup, aku begitu antusias datang langsung ke acara ini, karena memang jauh sebelumnya aku sudah tau berbagai program pemberdayaan Dompet Dhuafa yang keren-keren itu. Makanya begitu menerima undangan untuk hadir langsung di acara ini aku jelas nggak bisa menutupi rasa antusias nya.

Sebelum masuk ke sesi diskusi, aku memutuskan untuk "menjelajah" area luar ballroom terlebih dahulu. Suasananya seperti festival kemanusiaan yang sangat hidup! Langkahku terhenti di booth Rumah Sakit Pemberdayaan Dompet Dhuafa yang menawarkan pemeriksaan mata gratis. Aku pun ikut mengantre. Sambil diperiksa oleh tenaga medis yang sangat profesional, aku baru menyadari bahwa inilah bentuk nyata dari transparansi pengelolaan dana publik. Pelayanan kesehatan berkualitas ternyata bisa dinikmati siapa saja tanpa sekat biaya.


Tak jauh dari situ, aku dimanjakan oleh deretan produk UMKM binaan. Aku sempat melihat kerajinan tangan yang sangat estetik. Berbincang dengan para pelaku UMKM ini membuatku merinding, banyak dari mereka yang dulunya kesulitan modal dan akses, kini bisa berdiri tegak dengan usaha yang mandiri dan punya daya saing.


Indonesia Humanitarian Summit, EMPOWERMENT TO THE NEXT LEVEL

Bertajuk “EMPOWERMENT TO THE NEXT LEVEL”, Materi dan berbagai sambutan yang  dipaparkan para narasumber di atas panggung, membuatku akhirnya tersadar kalau faktanya kita lagi ada di persimpangan besar. Di luar sana, dunia sedang dihantam badai, semua dalam keadaan tidak baik-baik saja, mulai dari inflasi yang mencekik hingga gejolak geopolitik. Indonesia pun jelas tak luput dari tantangan ini. Mungkin memang bukan perang secara militer tapi gelombang PHK di sektor manufaktur dan digital membuat banyak kelompok menengah kini harus berjuang keras agar tidak terperosok ke jurang kemiskinan.



Angka di atas data mungkin bicara penurunan kemiskinan hingga 8,47% per Maret 2025, tapi sayangnya realita di lapangan berkata lain. Nyatanya walau dikatakan turun, kita semua jelas masih bergelut mengentaskan kemiskinan di Indonesia. Di sinilah hatiku tersentuh, ternyata acara ini bukan sekadar seremoni, tapi malah jadi satu komitmen untuk membawa solusi yang benar-benar nyata bagi 23,85 juta jiwa saudara kita yang masih berjuang di garis kemiskinan.

Satu hal yang membuatku sangat optimis adalah saat perwakilan Dompet Dhuafa mulai memaparkan tentang Indonesia Philanthropy Report 2025. Ternyata, meski ekonomi sedang goyah, solidaritas masyarakat Indonesia justru melonjak luar biasa! Laporan ini menunjukkan tren kenaikan penghimpunan dana yang signifikan dibanding tahun sebelumnya. Dompet Dhuafa sendiri membuktikan kepercayaan publik itu dengan meraih berbagai penghargaan bergengsi, seperti SDG’s Action Award dari Bappenas hingga Top Brand Award kategori Zakat. Ini bukti bahwa di masa sulit, sifat kedermawanan kita justru semakin menguat. Kagum sih sama sifat kedermawanan turun temurun ala bangsa Indonesia ini


Belajar Mandiri dari Sang Maestro

Memasuki sesi kedua, suasana ballroom semakin panas dengan diskusi bertema wirausaha. Di atas panggung, hadir dua sosok ikonik: Sandiaga Uno, seorang entrepreneur kawakan, dan Sally Giovanny, pemilik Batik Trusmi.

Sandiaga Uno menekankan bahwa kewirausahaan sosial adalah "sekoci" terbaik di tengah ketidakpastian global. Beliau berbagi cerita bagaimana inovasi dan adaptasi digital bisa menyelamatkan usaha kecil. Sementara itu, Sally Giovanny membawa perspektif yang sangat menyentuh tentang bagaimana ia membina para perajin lokal agar memiliki keahlian global. Keduanya sepakat: untuk naik kelas, kita tidak boleh hanya memberi "ikan", tapi harus membangun ekosistem yang kuat agar dhuafa bisa bertransformasi menjadi mandiri dan bermartabat.

Sepulang dari acara, ada satu pesan yang terus terngiang: bagi bangsa kita, terlibat dalam isu kemanusiaan adalah amanat dasar negara. Kolaborasi antara Dompet Dhuafa dan Nusantara TV mempertegas visi bahwa filantropi harus naik level menjadi pemberdayaan yang terukur, profesional, dan berkelanjutan.

Indonesia Humanitarian Summit 2025 telah membuka mataku lebar-lebar. Bahwa di tengah gelapnya tantangan ekonomi, selalu ada cahaya yang menyala jika kita mau bergerak bersama. Memberdayakan orang lain bukan hanya tentang mengubah hidup mereka, tapi tentang menaikkan level kemanusiaan kita sendiri. Mari melompat lebih tinggi untuk sesama!




14/11/25

Kipas Angin Raksasa di Acara Miyako BIGFAN, Ademnya Bikin Salfok deh!

 


Terbiasa hidup di daerah dengan suhu lumayan panas sepanjang tahun seperti Bekasi membuatku punya satu impian receh yang mungkin juga didambakan oleh banyak orang. Ngga muluk-muluk, aku sering membayangkan, seru kali ya kalau ada kipas angin raksasa di tengah kota yang banyak didatangi orang. Tentunya yang aku maksud bukan kipas angin biasa dong, karena ukurannya besar otomatis kipas angin tersebut harus tangguh di segala situasi. Ada yang pernah membayangkan hal serupa?

 

Jujur, bayangan soal kipas angin raksasa ini selalu muncul begitu saja, terutama kalau aku sedang merindukan sepoi-sepoi angin di tengah panasnya Jabodetabek. makanya ketika benar-benar melihat kipas angin raksasa ada di Taman Ismail Marzuki beberapa waktu lalu, aku jelas takjub bukan main. Kaget aja gitu, bisa-bisanya apa yang selama ini ada dalam bayanganku, sekarang benar-benar terwujud dalam bentuk nyata. 


Yup, sedikit cerita tanggal 7 November 2025 lalu aku sempat main ke Taman Ismail Marzuki (TIM). Saat aku ke sana, persis di depan TIM sedang ada acara Miyako BIGFAN dengan ikon utamanya Replika  kipas angin raksasa Miyako KAS-1697 DRW. Uniknya, Kipas angin raksasa yang hampir setinggi pohon kelapa itu benar-benar bisa menyala dan menghasilkan angin kencang. 


Kehadiran Kipas angin raksasa ini jelas menarik perhatian banyak orang yang lalu lalang di depan TIM, termasuk aku pastinya. Begitu melihat kipas angin raksasa tersebut, banyak pengunjung TIM yang langsung salfok dan berhenti sejenak untuk mengaguminya. Tak sedikit juga yang lanjut berfoto-foto ria, aku pun jelas tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk ikut mengabadikan momen langka ini. Kabar baiknya, ternyata ketika kita mengupload keseruan bersama Kipas angin Raksasa itu di jam-jam tertentu selama event berlangsung, ada hadiah kipas angin mini dan jus buah segar yang diberikan secara gratis oleh Miyako.



Nggak cuma itu aja, di awal acara juga ada Kak Agung Karmalogy dan tim nya yang ikut menghibur para pengunjung yang menyempatkan diri berhenti sejenak di dekat Kipas angin raksasa ini. Selain bisa berpartisipasi mengikuti challenge upload foto berhadiah di instagram dengan hastag #AdemnyaBikinSalfok, ada juga kuis berhadiah menarik seperti Kipas Angin Miyako. 


Buat kamu yang belum  sempat hadir ke TIM bisa ikut secara online dengan ikutan photo challenge : foto kipas Miyako tipe apa aja dan tag Miyako serta pakai hastag #BIGFAN #AdemnyaBikinSalfok #KipasAngin (periode sampai 21 November) untuk lebih lengkapnya bisa cek di bio instagram @miyakoofficial.id lumayannn bangett lho hadiahnya. 


Asli keren banget sih ide nya Miyako kali ini, bisa-bisa nya gitu kepikiran buat bikin acara dengan menghadirkan Kipas Angin Miyako raksasa di tengah panasnya kota Jakarta. Kehadiran kipas angin raksasa itu aja udah cukup buat bikin orang salfok dan lanjut cari tau lebih jauh soal produk-produk lain dari Miyako tuh. Nggak perlu gembar-gembor dengan panggung dan sound sistem besarnya, cukup taro si kipas angin raksasa di TIM aja, pengunjung auto nengok terus lanjut kepo deh.


Terbukti loh, yang aku lihat pas disana tuh banyak pengunjung yang tanya-tanya tentang berbagai produk Miyako lain. Kipas Angin Miyako raksasa tetap jadi primadona, tapi produk lain dari Miyako juga ikut dipromosikan di acara ini. Edukasi santai tentang berbagai produk Miyako lain ini disampaikan di tengah keseruan acara. Kerennya pengunjung yang hadir benar-benar dapat promosi produk Miyako itu tanpa dipaksa dan atas dasar kepo nya sendiri. Mantap lah strategi nya Miyako ini.



Sebenarnya kalau soal kipas angin, sepertinya kita semua yang tinggal di daerah lumayan panas ini memang butuh banget ya. Kalau di musim kemarau bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan hembusan angin segar, dan jika di musim hujan bisa digunakan untuk menjaga sirkulasi udara di dalam rumah tetap baik. Bahkan sekelas Nikita Willy saja menggunakan Aipas Angin Miyako loh. Jadi kalau kita pakai Kipas Angin Miyako di rumah maka kita bisa membanggakan ke tetangga kalau kita pakai Kipas Angin Nikita Willy tuh.


O iya, di awal tuh aku sudah ceritakan kalau produk Kipas Angin Miyako yang dipamerkan di TIM itu adalah KAS-1697 DRW. Nah pas ngobrol sama kakak-kakak Miyako di acara itu, aku jadi tau beberapa keunggulan dari Kipas Angin Miyako tipe tersebut nih:



  • Eco Power (DC Motor) : hanya 45 Watt! Super hemat
  • Hembusan angin ekstra kuat hingga 13,25 meter : Jaraknya jauh banget buat ukuran kipas angin.
  • Motor Double Bearing :  Dengan adanya ini jadi lebih tahan debu dan anti macet.
  • Silence Sound (61,7 dB) :  suara yang senyap
  • Digital Display :  Makin modern dan minimalis
  • Remote Control : Praktis tinggal pencet aja ga perlu bangun  
  • Timer sampai 9 jam 
  • Crystal Blade : Baling-baling bening, terlihat mewah.
  • Jaring Musang Anti Karat : Kuat, aman, dan bebas karat.
  • Thermofuse : Mencegah motor overheat. Aman banget.
  • Garansi Tanpa Syarat 3 Tahun : Buat motor kipas angin dan jaring musangnya!
  • Sudah SNI dan bersertifikat SHE (hemat energi) 


Jujur, aku sendiri pun ikut penasaran dengan produk-produk lain dari Miyako. Dalam benakku, kalau Miyako bisa membuat Kipas Angin raksasa sekeren ini, artinya, produk lain dari Miyako pun tak kalah keren dong. By the way kalau aku nggak salah dengar dari kaka-kaka Miyako di sana, Kipas angin raksasa ini akan hadir di TIM tanggal 7-9 November 2025 aja, semoga kedepannya acara-acara seperti ini bisa lebih sering dihelat deh yaa.  





10/11/25

Masyarakat Adat, Sang Pahlawan Lingkungan

 


Dulu kalau ditanya soal pembagian bulan antara musim hujan dan musim kemarau di Indonesia, dengan mudahnya kita bisa menjawab. Patokannya tak lain adalah karena musim hujan selalu diawali dengan bulan yang ada “ber” di belakangnya.Tinggal dihitung aja 6 bulan di mulai dari Oktober, itu artinya sudah masuk musim hujan dan sisa nya musim kemarau deh. Ada yang menggunakan clue ini juga kah?

 

Sayangnya beberapa tahun ini semua sudah mulai berubah. Bulan berakhiran “ber-ber” itu sudah tidak lagi merupakan pertanda musim hujan di negara khatulistiwa kita ini. Bahkan menurutku yang lumayan ekstrim adalah ketika di bulan agustus lalu, Indonesia, tepatnya di Bekasi tempat tinggal ku malah diguyur hujan terus menerus, padahal biasanya Agustus menjadi puncak musim kemarau. 


Bagi masyarakat Bekasi yang terbiasa panas, ini jelas sedikit menyenangkan, kapan lagi kan bisa merasakan hawa dingin Bekasi di bulan agustus. Tapi,  bagi ku dan pastinya banyak pecinta lingkungan lain, situasi ini justru menjadi peringatan ada yang tidak beres pada ekosistem, dan lingkungan kita. Mau tidak mau harus diakui kalau ketidakpastian iklim yang terjadi sekarang adalah bukti nyata rusaknya alam di bumi ini. Sudah bukan waktunya kita berdiam diri lagi, harus ada tindakan nyata yang dilakukan bersama.


Untuk masyarakat perkotaan seperti kita, mungkin memang tidak bisa terjun langsung menjaga hutan agar ekosistem bumi juga dapat terjaga dengan baik. Namun sebenarnya ada beberapa cara tak langsung yang bisa kita lakukan kok, salah satu nya dengan memberikan dukungan penuh pada masyarakat adat yang ada di wilayah adat nya masing-masing. Alasannya karena hampir semua masyarakat adat yang ada di Indonesia itu tinggal dan aktif menjaga hutan di lingkungan nya. Penasaran ngga sih sama apa dan bagaimana cara masyarakat adat menjaga lingkungan serta tantangan-tantangan yang mereka hadapi? Baca tulisan ini sampai selesai yaa.


Masyarakat adat, si Pahlawan Lingkungan yang Terancam di Wilayah nya Sendiri





Sama seperti kita semua yang biasanya lebih memahami daerah tempat tinggal masing-masing, masyarakat adat pun bisa dibilang demikian. Mereka sudah turun temurun tinggal di wilayah adatnya masing-masing, jadi jangan heran kalau ilmu tentang menjaga lingkungan tersebut pun lebih mereka pahami dan juga terus diturunkan secara berkala pada keturunan nya. Bahkan mungkin ilmu mereka memahami wilayahnya itu jauh lebih baik dibanding ‘orang kota bergelar’ yang baru menginjakkan kaki di wilayah adat itu.


Sayangnya, kemampuan masyarakat adat dalam menjaga wilayah adatnya ini justru diragukan oleh negara. Masih banyak masyarakat adat yang merasa wilayahnya  dikorbankan dengan dalih pemerataan pembangunan. Yup, lagi-lagi masyarakat adat menjadi korban. Situasi ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja tapi juga di berbagai belahan dunia lain. Jujur, aku pun agak kaget saat mendengar hal ini di salah satu webinar dalam rangkaian COP 30 beberapa waktu lalu. 


Miris aja, kenapa sih negara harus merasa lemah dan sangat tidak percaya diri hingga harus  membuat uu yang terus menjadi legitimasi untuk merampas wilayah adat. Di tengah berbagai masalah yang ada di Indonesia, masyarakat adat pun merasa kurang mendapat dukungan dari negara dan global. 


Kebanyakan dari Dukungan global itu khususnya dari philanthropy dan donatur tersebut nyatanya hanya ada diatas kertas. Pendanaan dengan nominal yang cukup besar dan terus digembar-gemborkan itu kurang dirasakan dampaknya oleh masyarakat adat nya. Kebanyakan dari uang tersebut ada dan dikelola oleh lembaga-lembaga intermediate, jadi banyak yang tidak sampai ke tangan para masyarakat adat. Padahal dukungan itu amat diperlukan oleh masyarakat adat untuk bisa menjaga wilayah-wilayah adat yang nantinya akan membuat dunia ini selamat dari krisis global. 





Oleh karena itu, AMAN akan terus membawa isu ini agar dapat dilihat oleh mata dunia, terutama di event COP 30. Tujuannya utamanya adalah agar masyarakat adat bisa terus terlindungi dengan maksimal saat menjaga wilayah adat nya masing-masing. Sedihnya lagi, belakangan ini masyarakat adat yang seharusnya dianggap pahlawan karena menjaga wilayah adatnya,justru dicap sebagai kriminal yang tidak patuh pada negara. 


Masyarakat adat sebenernya sama sekali tidak menolak pembangunan, mereka ingin berkontribusi sepenuh penuhnya untuk pembangunan tetapi jangan sampai pembangunan tersebut berdiri di atas darah dan air mata para masyarakat adat, atau bahkan sampai berdiri di atas punahnya masyarakat adat di suatu wilayah. Sudah banyak contoh masyarakat adat yang akhirnya terpaksa punah karena tergerus oleh pembangunan yang semakin masif. Hutan dan alam dirusak dengan dalih pembangunan. 


Masyarakat adat jelas memiliki berbagai pengetahuan turun temurun yang akan berguna untuk terus menjaga ekosistem dan lingkungan di wilayah nya.  Kalau ekosistem dan lingkungan terjaga, maka dampak nya akan terasa secara global. gampangnya, dengan menjaga masyarakat adat maka sama artinya dengan menjaga bumi tercinta ini. Segitu berjasa nya peran masyarakat adat untuk kita semua, jadi jangan sampai kita lepas tangan begitu saja melihat para masyarakat adat berjuang sendirian. Kita semua adalah jawaban dari krisis global ini. Tanggung jawab menjaga bumi ini adalah tugas kita semua, bukan hanya masyarakat adat.  


Mungkin kita memang belum bisa turun tangan langsung menjaga hutan seperti yang dilakukan oleh masyarakat adat, namun kita bisa kok terus mendukung mereka dengan tak lelah menyuarakan soal ini ke masyarakat luas baik di negara sendiri maupun secara global. Semoga suara kita bersama ini akan lebih didengar oleh para petinggi dan bisa membuat banyak perubahan berarti